Iklan Melayang

Kamis, 27 Mei 2010

Mencermati Kemilau Reksa Dana Pasar Uang

rEspon mu... 

MARKETIVAOpen an AccountIt's easy, takes only 5 minutes, and you even earn $5 cash reward!CLICK HERE...


Senin, 26/04/2010 08:01 WIB
Mencermati Kemilau Reksa Dana Pasar Uang
sumber : Indro Bagus - detikFinance

Jakarta - Siapa sangka, diantara semua jenis reksa dana, produk reksa dana pasar uang telah mencetak peningkatan Nilai Aktiva Bersih (NAB) paling tinggi sepanjang tahun ini, yakni sebesar 49,47%.

Dari 9 produk yang diklasifikasikan bersama dengan reksa dana, 6 diantaranya mengalami penurunan NAB, sedangkan 2 lainnya menemani reksa dana pasar uang menoreh keuntungan.

Sebagai catatan bagi yang belum tahu, apa yang dimaksud NAB adalah posisi aset kelolaan nasabah. Istilah ini digunakan untuk menyebutkan posisi portofolio nasabah.

Nah, berdasarkan data Pusat Informasi Reksa Dana yang dipublikasikan Badan Pengawas Pasar Modal & Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), yang baru saja dibuka kembali setelah ditutup selama 2 tahun lebih tanpa alasan yang jelas itu, jawara kenaikan NAB tertinggi hingga pekan kemarin adalah produk reksa dana pasar uang.

Secara total, posisi NAB seluruh produk reksa dana per akhir pekan kemarin tercatat sebesar Rp 117,291 triliun, naik tipis 0,47% dari posisi akhir tahun 2009 sebesar Rp 116,732 triliun.

Sementara jumlah unit reksa dana yang dibeli hingga pekan kemarin sebanyak 71,350 miliar unit, meningkat 1,96% dari posisi akhir tahun lalu sebanyak 69,978 miliar unit.

Melihat rasio pertumbuhan unit penyertaan yang jauh lebih tinggi ketimbang peningkatan NAB yang hanya naik tipis, menunjukkan kalau sebagian besar aset kelolaan banyak mengalami penurunan.

Benar saja, kalau dijabarkan ternyata sebagian besar NAB per jenis reksa dana mengalami penurunan.

Bapepam-LK mengklasifikasikan 9 jenis produk dana kelolaan yakni
1. Reksa dana saham.
2. Reksa dana pasar uang.
3. Reksa dana campuran.
4. Reksa dana pendapatan tetap.
5. Reksa dana terproteksi.
6. Reksa dana indeks.
7. Exchange Trade Fund (ETF) saham.
8. ETF pendapatan tetap.
9. Syariah.

Dari 9 jenis produk dana kelolaan tersebut, 6 diantaranya mengalami penurunan NAB, sedangkan yang naik hanya 3 produk. Produk ETF pendapatan tetap mencatat persentase penurunan NAB tertinggi sepanjang tahun ini, yakni sebesar 34,18% dari Rp 629,33 miliar di akhir tahun 2009 menjadi Rp 414,194 miliar di akhir pekan lalu.

Produk reksa dana indeks berada di posisi kedua terburuk dengan penurunan NAB sebesar 28,63% dari Rp 290,190 miliar di akhir tahun 2009 menjadi Rp 207,093 miliar di akhir pekan lalu.

Kemudian jenis ETF saham menurun 11,46% dari Rp 45,130 miliar di akhir tahun lalu menjadi Rp 39,958 miliar di akhir pekan lalu.

Produk reksa dana pendapatan tetap mengalami penurunan NAB sebesar 5,81% dari sebesar Rp 20,087 triliun di akhir 2009 menjadi Rp 18,919 triliun di akhir pekan lalu.

Reksa dana terproteksi secara total juga mengalami penurunan NAB sebesar 4,19% dari posisi akhir tahun 2009 sebesar Rp 34,623 triliun menjadi Rp 33,170 triliun di akhir pekan lalu.

Terakhir, produk reksa dana campuran yang mengalami penurunan NAB sebesar 2,49% dari sebesar Rp 15,657 triliun di akhir 2009, menjadi sebesar Rp 15,267 triliun di akhir pekan lalu.

Jika ditotal, posisi NAB 6 produk di atas sebesar Rp 68,017 triliun di akhir pekan lalu, turun 4,64% atau Rp 3,314 triliun dari posisi akhir tahun 2009 sebesar Rp 71,331 triliun.

Untungnya, kenaikan NAB 3 produk lainnya berhasil mengangkat seluruh total NAB produk dana kelolaan, terutama ditopang oleh kenaikan NAB produk reksa dana pasar uang yang menjadi jawara.

Sedangkan produk reksa dana saham dan dana kelolaan syariah ikut menyumbangkan kenaikan NAB, meskipun tidak sebesar reksa dana pasar uang.

NAB dana kelolaan syariah di akhir pekan lalu tercatat sebesar Rp 3,675 triliun, naik tipis 0,1% atau Rp 4 miliar dari posisi akhir 2009 sebesar Rp 3,671 triliun.

Kemudian posisi NAB reksa dana saham di akhir pekan lalu tercatat sebesar Rp 37,795 triliun, naik 3,53% atau Rp 1,288 triliun dibanding akhir tahun 2009 sebesar Rp 36,507 triliun.

Terakhir, produk reksa dana pasar uang mencatat NAB sebesar Rp 7,801 triliun di akhir pekan lalu, melejit 49,47% atau Rp 2,582 triliun dari posisi akhir tahun 2009 sebesar Rp 5,219 triliun.

Total NAB 3 produk tersebut tercatat sebesar Rp 49,271 triliun di akhir pekan lalu, naik 8,53% atau Rp 3,874 triliun dibanding posisi akhir tahun lalu sebesar Rp 45,397 triliun.

Kenaikan NAB reksa dana pasar uang, baik dari persentase maupun nilai nominalnya sukses menopang kenaikan seluruh NAB produk dana kelolaan, setidaknya hingga pekan kemarin.

Sebagai catatan, posisi NAB seluruh produk dana kelolaan saat ini sebesar Rp 117,291 triliun merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah pasar modal Indonesia.

Lantas, kenapa produk reksa dana pasar uang begitu menoreh kemilau besar tahun ini?

Reksa dana pasar uang merupakan produk dana kelolaan yang penempatan dananya dialokasikan sebagian besar (80%) pada produk tabungan, deposito dan sertifikat Bank Indonesia (SBI), sedangkan sisanya pada instrumen-instrumen surat utang jangka pendek (kurang dari setahun).

Secara sederhana dapat disimpulkan, bahwa kenaikan NAB produk reksa dana pasar uang terjadi karena adanya dana masuk cukup besar produk ini serta peningkatan nilai portofolio nasabah pada instrumen-instrumen tersebut.

Pertanyaannya kemudian, mengapa terjadi minat besar-besaran menanamkan investasi pada instrumen tabungan, deposito, SBI dan surat utang jangka pendek?

Jawabannya sederhana. Proyeksi ekonomi terkini mengindikasikan adanya pemulihan ekonomi global yang "dijadwalkan" akan dimulai pada semester II-2010.

Pemulihan ekonomi, biasanya diiringi oleh adanya permintaan atau daya beli yang berselisih dengan penawaran atas produksi atau yang dikenal dengan istilah inflasi. Semakin besar rasio inflasi, dalam konteks pemulihan ekonomi berarti terjadi peningkatan permintaan ketimbang posisi penawaran.

Nah, proyeksi terjadinya peningkatan inflasi selalu mengindikasikan akan terjadinya kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate). Sebab, secara etika ilmu ekonomi, nilai suku bunga acuan bank tidak bisa lebih rendah dari inflasi.

Oleh sebab itu, mudah disimpulkan bahwa rekomendasi pemulihan ekonomi memunculkan ekspektasi atas adanya kenaikan BI Rate pada semester II-2010, sebagaimana telah diproyeksikan banyak analis, bahkan pejabat BI sekalipun bernada sama.

Kenaikan BI Rate, sudah barang tentu akan membuat suku bunga tabungan dan deposito bank serta SBI mengalami kenaikan. Dan ini dapat dipastikan akan memberikan peningkatan selisih (yield) pada produk-produk tersebut.

Jadi wajar saja, jika sebagian pelaku pasar kini memburu produk reksa dana pasar uang, didorong oleh ekspektasi kenaikan BI Rate, dengan harapan dapat menuai keuntungan di tengah sentimen pemulihan ekonomi global.


(dro/qom)

ESDM: PLTA Asahan I Tak Perlu Audit Lingkungan sumber :Nurseffi Dwi Wahyuni - detikFinance

rEspon mu... 

MARKETIVAOpen an AccountIt's easy, takes only 5 minutes, and you even earn $5 cash reward!CLICK HERE...


Kamis, 27/05/2010 07:10 WIB
ESDM: PLTA Asahan I Tak Perlu Audit Lingkungan

sumber :Nurseffi Dwi Wahyuni - detikFinance

Jakarta - Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Asahan I bisa tetap dioperasikan tanpa harus melakukan audit lingkungan. Pembangunan PLTA itu cukup dengan menggunakan dokumen usaha kelola lingkungan dan usaha pemantauan lingkungan (UKL-UPL).

Menurut Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi, Kementerian ESDM, J Purwono, berdasarkan aturan yang ada pembangunan PLTA tipe run off river seperti PLTA Asahan I memang tidak membutuhkan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).

"PLTA yang run off river itu ada peraturan Menteri Lingkungan Hidup yang menyebutkan tidak perlu pakai Amdal cukup dengan UKL-UPL, jadi Asahan I tetap bisa dioperasikan," kata Purwono kepada detikFinance, Rabu (26/5/2010).

Hal ini diamini oleh Direktur Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan, Jhoni Simanjuntak. Ia menyatakan pembangkit dengan tipe run off river memang tidak membutuhkan dokumen AMDAL karena dalam pengoperasiaannya PLTA jenis ini tidak membutuhkan bendungan besar untuk membendung aliran sungai.

Daya listrik yang dapat dibangkitkan pembangkit ini hanya tergantung pada debit air sungai.

Menurutnya, meskipun ada aturan di Kementerian Lingkungan Lingkungan Hidup yang mewajibkan agar proyek pembangunan PLTA harus memiliki AMDAL, namun aturan lama yang mengatur hal ini masih belum dicabut oleh pemerintah.

"Permen yang lama belum dicabut. Tapi ini mungkin ada suatu miss komunikasi," ungkapnya.

Untuk itu, Joni menilai pembangkit dengan kapasitas 2x90 MW tersebut dapat segera beroperasi tanpa harus melakukan audit lingkungan seperti yang diminta Menteri Lingkungan Hidup, Gusti Muhammad Hatta dan juga Komisi VII DPR.

"Jadi kalau PLTA Asahan I mau beroperasi itu no problem. Tapi kalau PT Badzra Daya lakukan audit itu silakan saja," ungkapnya.

Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup, Gusti Muhammad Hatta telah mengirimkan surat kepada Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh untuk melarang pengoperasian PLTA Asahan I sebelum audit lingkungan terhadap pembangunan pembangkit itu diselesaikan.

Audit lingkungan tersebut dibutuhkan karena dalam pembangunannya, pembangkit dengan kapasitas 2x90 Megawatt itu belum memiliki dokumen Amdal.

Kementerian LH sendiri juga sudah meminta kepada PT Badzra Daya Swarna Utama sebagai pemilik PLTA itu untuk segera melakukan audit.

Menurut Deputi Tata Lingkungan Kementerian Lingkungan, Hermien Roosita, saat ini pihaknya sudah menerima surat pemberitahuan dari PT Badzra Daya Swarna Utama bahwa mereka sedang melakukan audit lingkungan seperti yang diperintah pemerintah.

Ia menambahkan sebenarnya PT Badzra Daya Swarna Utama sudah memiliki dokumen UKL-UPL, namun seiring dengan terbitkan Permen Nomor 11 tahun 2006 yang mewajibkan pembangunan pembangkit memiliki AMDAL, sehingga dokumen UKL-UPL yang dimilikinya tidak berlaku dan perseroan tetap harus mengurus Amdal.

Sebelumnya, Komisi VII DPR juga telah meminta kepada pemerintah untuk melarang pengoperasian PLTA Asahan I sebelum audit lingkungan dilakukan.

Untuk diketahui, PLTA Asahan 1 dengan kapasitas 2x90 MW tersebut akan mulai dioperasikan dalam waktu dekat ini. Proyek ini dikelola oleh PT Badzra Daya dengan China Huadian Corporation (CHD) mulai akhir Desember 2006.

Proyek senilai US$ 200-300 juta itu diharapkan dapat memperkuat pasokan listrik di wilayah Sumatera Utara dan sekitarnya.

(epi/qom)

Dow Jones Terpuruk di Bawah 10.000

rEspon mu... 

MARKETIVAOpen an AccountIt's easy, takes only 5 minutes, and you even earn $5 cash reward!CLICK HERE...


Dow Jones Terpuruk di Bawah 10.000
sumber :Nurul Qomariyah - detikFinance


Foto: Reuters
New York - Saham-saham di bursa Wall Street berbalik arah ke teritori negatif, bahkan indeks Dow Jones terpuruk di bawah level 10.000. Investor masih terus waspada di tengah pasar yang sangat sensitif oleh rumor-rumor di pasar.

Investor mendapatkan sentimen negatif dari China yang kabarnya sedang mengkaji ulang kepemilikannya atas surat berharga Eropa. Financial Times mengutip seorang pejabat China yang mengelola cadangan devisa negara tersebut mengungkapkan adanya pertemuan dengan broker asing untuk mendiskusikan masalah tersebut.

Hal itu langsung memicu profit taking setelah kemarin saham-saham berhasil ditutup di teritori positif.

"Pasar masih gugup. Pembalikan ke teritori positif yang terjadi sebelumnya tidak berarti koreksi pasar sudah berakhir atau investor yakin tentang arah kebijakan Eropa maupun kesuksesan kebijakan Eropa," ujar Tim Chriskey, chief investment officer dari Solaris Asset Management seperti dikutip dari Reuters, Kamis (27/5/2010).

Pada perdagangan Rabu (26/5/2010), indeks Dow Jones tercatat turun 69,30 poin (0,69%) ke level 9.974,45. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 6,08 poin (0,57%) ke level 1.067,95 dan Nasdaq melemah 15,07 poin (0,68%) ke level 2.195,88.

Saham-saham berkapitalisasi besar termasuk Microsoft Corp dan McDonald's Corp menjadi penentu pelemahan Dow Jones yang terbesar. Saham Microsoft tercatat turun hingga 4,1%, sementara McDonald's turun 2,7%.

Perdagangan berjalan cukup ramai dengan volume transaksi di New York Stock Exchange mencapai 12,44 miliar lembar saham, di atas rata-rata tahun lalu yang mencapai 9,65 miliar.

(qom/qom)

rekomendasi saham

rEspon mu... 

MARKETIVAOpen an AccountIt's easy, takes only 5 minutes, and you even earn $5 cash reward!CLICK HERE...


Rekomendasi Saham
IHSG Bakal Didera Profit Taking
sumber : Nurul Qomariyah - detikFinance


Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin melesat tajam hingga 7% dan menjadi terkuat dibandingkan bursa Asia lainnya. IHSG melonjak dalam transaksi yang tidak terlalu besar seiring penguatan bursa-bursa regional lainnya.

Pada perdagangan Rabu (26/5/2010), IHSG ditutup melesat tajam 182,661 poin (7,27%) ke level 2.696,780. Indeks LQ 45 juga menguat hingga 38,415 poin (7,95%) ke level 521,636.

Namun kini koreksi sudah kembali ada di depan mata. Penguatan yang terlalu tajam, plus sentimen koreksi bursa-bursa utama dunia akan membawa IHSG kembali ke teritori negatif.

IHSG pada perdagangan Kamis (27/5/2010) diprediksi akan bergerak di teritori negatif. Saham-saham unggulan yang kemarin sudah melesat tajam akan didera koreksi, termasuk saham-saham grup Bakrie.

Bursa Wall Street kemarin ditutup melemah, dengan indeks Dow Jones terpuruk di bawah level 10.000. Investor masih terus waspada di tengah pasar yang sangat sensitif oleh rumor-rumor di pasar.

Pada perdagangan Rabu (26/5/2010), indeks Dow Jones tercatat turun 69,30 poin (0,69%) ke level 9.974,45. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 6,08 poin (0,57%) ke level 1.067,95 dan Nasdaq melemah 15,07 poin (0,68%) ke level 2.195,88.

Bursa Tokyo kemarin juga dibuka langsung mengalami koreksi. Indeks Nikkei-225 dibuka langsung melemah 104,58 poin (1,10%) ke level 9.418,08.

Berikut rekomendasi saham untuk hari ini:

OSK Nusadana Securities Indonesia

IHSG hari ini diperkirakan rawan koreksi setelah pada perdagangan kemarin naik cukup signifikan. Diperkirakan support saat ini sekitar level 2,637.63 dan resistance di 2,689.07

Secara umum IHSG akan kembali mencoba masuk ke uptrend channel dimana level 2,755.01 adalah level konfirmasi lebih lanjut.

Secara umum pada terlihat MFI Optimized masih cenderung naik dengan menguji level antara 2,689.07 dengan 2,791.95 atau sekitar level 2,740.51, namun indikator W%R Optimized yang relatif sensitif terhadap pergerakan harian cenderung untuk top reversal .

Dengan demikian jika terjadi koreksi hari ini diperkirakan masih wajar sejauh tidak tembus level 2,589.16.

(qom/qom)
rEspon mu... 

MARKETIVAOpen an AccountIt's easy, takes only 5 minutes, and you even earn $5 cash reward!CLICK HERE...



Rabu, 26/05/2010 17:29 WIB
DPR Usul Aliran Dana LSM Asing Diaudit
sumber :Suhendra - detikFinance

Jakarta - Anggota Komisi IV DPR-RI Ana Muawanah mengusulkan agar segera dibentuk undang-undang mengenai keormasan termasuk soal Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM/NGO). Hal ini bertujuan untuk bisa mengontrol LSM-LSM yang ada di Indonesia, seperti LSM asing dalam hal aliran pendanaannya.

"Ke depan perlu adanya UU Keormasan dan LSM, kita tidak menutup tapi mengatur, agar kemandirian kita tidak terkoyak-koyak," kata Ana dalam acara dialog publik, dibalik kampanye hitam kelapa sawit, Jakarta, Rabu (26/5/2010).

Dikatakannya, Indonesia sudah sangat terbuka, LSM apapun lokal maupun asing bisa masuk ke Indonesia tanpa diaudit keuangannya. Hal ini menurutnya sangat penting di tengah isu kampanye hitam sawit oleh para LSM asing belakangan ini yang justru merugikan Indonesia.

"Yang saya khawatirkan adalah mata-mata itu yang yang perlu diketahui," katanya.

Menurutnya masalah kampanye hitam apapun caranya, pasti memiliki motif. Termasuk dalam hal bidang kampanye sawit yang dihebuskan oleh LSM asing terhadap produk sawit Indonesia.

"LSM atau NGO itu harus ada pengawasan khusus, agar kita sebagai negara tetap mandiri," ucap Ana.

(hen/ang)

Senin, 17 Mei 2010

rEspon mu... 

MARKETIVAOpen an AccountIt's easy, takes only 5 minutes, and you even earn $5 cash reward!CLICK HERE...


IHSG Jatuh Lagi ke Level 2.700
Indro Bagus - detikFinance


(foto: dok detikFinance)


Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami koreksi tajam dan ditutup di level 2.700-an. Sentimen negatif bursa global masih memberikan tekanan jual hebat dalam volume dan nilai transaksi tipis.

IHSG dibuka turun tipis ke level 2.857,989 dan langsung melorot tajam hingga sempat menyentuh level 2.782,813, anjlok 74 poin dari penutupan akhir pekan lalu di level 2.858,385.

Koreksi tajam IHSG terjadi dalam volume dan nilai transaksi tipis. Seluruh saham-saham unggulan mengalami tekanan jual yang sangat berat. Indeks-indeks saham sektoral seluruhnya terjebak di teritori negatif dengan penurunan antara 1-3%.

Sentimen negatif situasi utang Yunani menyebabkan investor di kawasan Asia memutuskan menarik dana segar ketimbang memegang portofolio efek. Seluruh bursa-bursa regional Asia pun didera tekanan jual dan mengalami koreksi tajam.

Aktivitas transaksi investor asing didominasi aksi jual dengan penjualan bersih (foreign net sell) sebesar Rp 211 miliar.

Pada perdagangan Senin (17/5/2010) sesi I, IHSG ditutup anjlok 65,118 poin (2,27%) ke level 2.793,267. Indeks LQ 45 turun 13,769 poin (2,49%) ke level 537,229.

Perdagangan berjalan lambat dengan frekuensi transaksi di seluruh pasar hanya 35.589 kali pada volume 1,703 miliar lembar saham senilai Rp 1,561 triliun. Sebanyak 17 saham naik, 206 saham turun dan 24 saham stagnan.

Bursa-bursa regional Asia seluruhnya mengalami koreksi:
  • Indeks Shanghai turun tajam 79,53 poin (2,95%) ke level 2.617,09.
  • Indeks Hang Seng anjlok 499,42 poin (2,48%) ke level 19.646,01.
  • Indeks Nikkei 225 turun 246,90 poin (2,36%) ke level 10.215,61.
  • Indeks Strait Times turun 33,26 poin (1,16%) ke level 2.821,95.
Saham-saham yang naik harganya di top gainer antara lain Unggul Indah Cahaya (UNIC) naik Rp 350 ke Rp 2.500, Bank NISP (NISP) naik Rp 30 ke Rp 940, BFI Finance (BFIN) naik Rp 25 ke Rp 2.150, Bank Agro (AGRO) naik Rp 3 ke Rp 156.

Sedangkan saham-saham yang turun harganya di top loser antara lain Gudang Garama (GGRM) turun Rp 1.700 ke Rp 29.750, Astra International (ASII) turun Rp 1.250 ke Rp 41.350, Indo Tambang (ITMG) turun Rp 950 ke Rp 37.000, Astra Agro (AALI) turun Rp 750 ke Rp 20.350. (dro/dnl)

kumpul blogger

Subcribe & Bookmark

Bookmark and Share

Bookmark and Share
Subscribe My Feed