Iklan Melayang

Jumat, 31 Juli 2009

Hanya 20 Persen Warga Indonesia Nikmati Arti Kemerdekaan

rEspon mu... 

Hanya 20 Persen Warga Indonesia Nikmati Arti Kemerdekaan



Kamis, 14 Agustus 2008 12:17 WIB

100 tahun sejarah kebangkitan nasional dan 63 tahun merdeka, hanya kurang dari 20% rakyat Indonesia yang menikmati arti kemerdekaan, hidup layak, nyaman dan relatif sejahtera.

"Mayoritas bagsa kita belum dapat menikmati arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Hidup jauh dari layak, sehari-hari harus berjuang untuk sekadar makan dan bertahan hidup," kata Rizal Ramli pada acara Deklarasi Rizal Ramli Pemimpin Perubahan sekaigus peluncuran buku Rizal Ramli Lokomotif Perubahan di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (14/8).

Hadir dalam acara itu antara lain Ketua Umum Partai Hanura Wiranto, sejumlah tokoh agama, tokoh pers, dan sejumlah pengusaha. Acara itu diwarnai dengan pengibaran bendera merah putih dan diselingi lagu-lagu nasional perjuangan.

Rizal Ramli mengatakan sejarah kebangkitan nasional barulah sejarah kebangkitan elite yang sering lupa makna perjuangan kemerdekaan dan bahkan sering menggadaikan kedaulatan negaranya untuk kepentingan pihak luar.

Ramli mengatakan sistem perekonomian Indonesia saat ini masih struktur piramida terbalik. "Kekayaan dan ekonomi dikuasai segelentir orang saja. Perekonomian belum ditopang kalangan menengah yang inovatif. Ekonomi sekarang ini masih dalam bungkus Orde Baru. Mayoritas masyarakat kita susah," katanya.

Menurut Ramli, deklarasi itu merupakan perenungan dan keprihatinannya yang sangat mendalam terhadap bangsa yang sangat dicintainya. "Momentum bulan Agustus mengingatkan akan perjuangan yang dilakukan para pahlawan terdahulu yang mengorbankan pikiran harta dan nyawa untuk kesejahteraan yang sangat diidam-idamkan," katanya.

Setelah 63 tahun medeka, sambung Rizal, bangsa besar ini tak juga bisaa bediri tegak dengan kepercayaan diri dari belenggu penjajahan secara fisik tetapi masih terjajah dalam bidang ekonomi dan sosial dalam bentuk neoliberalisme yang semakin mencengkeramkan Indonesia.

"Neoliberalisme adalah tangan dan jejaring yang semakin memperkokoh kembalinya neokolonialisme di bumi pertiwi," katanya. (KN/OL-2)

Sumber : Media Indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini

kumpul blogger

Subcribe & Bookmark

Bookmark and Share

Bookmark and Share
Subscribe My Feed